Cerita di Kilometer Pertama

Setiap orang mungkin punya alasan personal kenapa mereka bisa suka dengan olahraga lari. Selama dua minggu belakangan, gue bertanya ke beberapa teman gue mengenai alasan utama mereka berlari, dan gue memilih tiga cerita yang bisa dibilang nggak biasa mengenai apa alesan mereka memulai kilometer pertamanya. So, here it is..

***

CERITA SATU
Mari kita panggil temen gue ini Angga. Perjalanan berlarinya bisa dibilang rutin dimulai tahun lalu ketika ayahnya terkena serangan jantung mendadak sehingga memaksa Angga menjadi tulang punggung keluarga. Angga memulai kilometer pertamanya sebagai distraksi dari rasa rindu kepada sang ayah yang menggebu-gebu. Angga selalu memasang playlist kenangan bersama ayahnya untuk menemani setiap kilometer langkahnya. Angga tidak pernah menyangka, selain berdoa, ternyata berlari merupakan salah satu aktifitas yang membuat dia selalu merasa dekat dengan sang ayah. Semakin lelah badan Angga, semakin berat nafas Angga, dan semakin jauh langkah yang ditempuh, itu membuat Angga merasa semakin dekat dengan ayahnya. Angga seorang solo runner yang sampai saat ini belum terlalu tertarik bergabung dengan komunitas manapun. Alasannya simple, karena di tiap kilometer kesendiriannya, ayahnya selalu datang menemaninya berlari. Angga selalu mengganggap berlari ialah satu olahraga personal yang membuat dia semakin dekat dengan sosok ayahnya yang telah tiada.

CERITA DUA
Gue udah kenal cukup lama dengan Mega. Dia merupakan salah seorang temen gue yang mengenalkan gue dengan olahraga ini. Mega merupakan anak semata wayang. Mega mencoba bergabung di suatu komunitas lari karena dia merasa cukup sepi ada di rumah. Kilometer pertamanya dimulai dengan bergabung di salah satu komunitas lari yang ternyata sangat welcome dengan kehadirannya. Mulai dari situ, Mega rutin berlari setidaknya dua sampai tiga kali seminggu. Ini tahun ketiga perjalanan larinya. Teman-teman larinya bahkan sekarang senang main ke rumahnya, bercanda dengan ibunya, atau sekedar mengobrol ringan dengan ayahnya. Mega kadang suka amaze sendiri, bagaimana berlari bisa membawa dampak signifikan tidak hanya dari sisi fisiknya, tapi juga dari sisi psikisnya. Satu hal yang Mega selalu syukuri, bagaimana cara olahraga ini membawa dampak positif di hampir setiap aspek hidupnya.

CERITA TIGA
Dia salah seorang teman lari gue. Mari kita panggil dia Bagas. Bagas merupakan ayah dari seorang anak yang lucu. Bagas memulai kilometer pertamanya sekitar empat tahun lalu dan masih konsisten berlari sampai saat ini. Bagas punya alasan yang cukup manis mengapa dia konsisten berlari. Bagas ingin suatu saat nanti, mungkin lima belas atau dua puluh tahun lagi, dirinya masih mampu berlari bersama anaknya. Bagas ingin menjadi orang pertama yang menemani kilometer pertama anaknya. Untuk mewujudkan mimpinya, Bagas mencoba konsisten berlari sampai saat ini atau bahkan sampai lima belas atau dua puluh tahun lagi. Bagas ingin menjadi ayah yang selalu menemani dan merasakan ratusan kilometer langkah lari anaknya.

CERITA EMPAT
Ok, ini cerita kenapa gue bisa ketagihan olahraga lari. Gue basicnya seorang yang sangat pemalas. Lari nggak pernah masuk ke dalam toplist olahraga yang gue mau coba karena sifatnya yang sangat monoton. Gue memulai kilometer pertama gue karena mulai bosan dengan pekerjaan yang bisa memenuhi dua pertiga dari isi kepala gue. Gue melihat Mega (di cerita dua) sangat enjoy di komunitas larinya. Gue dulunya solo runner selama kurang lebih delapan bulan sampai akhirnya merasa butuh satu circle baru sebagai bentuk distraksi akan beberapa pikiran gue. Gue akhirnya memilih komunitas yang berbeda dengan Mega. Dan gue juga sangat-sangat enjoy berada di dalam sini. Berlari bersama teman-teman benar-benar bisa mendistraksi pikiran gue akan beberapa masalah yang nggak bisa dihindari. Dari olahraga ini gue menemukan teman-teman yang selalu hadir bahkan ketika gue mulai menarik diri dari permukaan. Dan yang paling penting, mereka selalu setia menemani di garis finish, nggak peduli selama apapun gue berlari.

***

Empat cerita di atas merupakan alasan kenapa mereka suka olahraga lari. Tiap orang punya cerita berbeda dengan latar belakang berbeda juga. Tapi mereka semua punya satu benang merah yang sama: mereka nggak sengaja kecemplung di olahraga lari dan kemudian nggak bisa berhenti.

Cerita Angga, Mega, Bagas, ataupun gue merupakan contoh kecil bagaimana berlari bisa mempersatukan manusia melalui satu hobi. Apapun alasan awalnya. Gue bukan pakar olahraga yang bisa menjelaskan secara rinci kenapa berlari bisa membuat seseorang menjadi happy. Tapi yang gue rasain ialah, endorphines effect setelah berlari itu benar-benar bisa memberikan efek distraksi akan semua masalah dan pikiran yang mungkin ada di pikiran kita saat ini.

Jadi, kira-kira apa alasan utamamu sampai memutuskan untuk jatuh cinta dengan olahraga lari?


Cheers,

@ilfahabib

 

Kontributor: We Run JKT Komunitas

Komunitas pelari We Run JKT dari Jakarta.

Diskusi